Rabu, 15 Juni 2011

Pengalaman Nyata Pendidikan KewirausahaanPDFCetakE-mail
JUMAT, 12 DESEMBER 2008 11:10
Pendidikan Kewirausahaan yang saya maksudkan di sini bukan semacam lembaga pendidikan formal atau pendidikan non formal berupa sekolah singkat ataupun juga kursus, melainkan semacam praktek pendidikan membentuk jiwa wirausaha di lingkungan keluarga. Suami isteri dalam kisah yang akan saya kemukakan berikut ini memang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, hanya sayangnya keduanya sudah meninggal, sehingga tidak bisa dikonfirmasi lagi. Dari pergaulan cukup lama dengan keluarga ini, saya mendapatkan kesan yang amat mendalam, bagaimana mereka memberikan pendidikan terhadap ketiga anaknya. Dengan pendekatan pendidikan seperti yang akan saya ceritakan berikut, ketika anaknya setelah dewasa, tidak ada yang kebingungan mendapatkan mata pencaharian, karena sudah dibekali dengan jiwa kewirausahaan. Hanya saja, memang akhirnya seorang saja dari tiga bersaudara yang benar-benar menjadi wirausahawan, sedangkan dua lainnya lulus dari fakultas kedokteran, sehingga keduanya menjadi dokter. Namun, sekalipun tidak besar, keduanya juga mengembangkan wirausaha sebagai sambilan.

Orang yang sangat saya kenal tersebut, secara ekonomi termasuk sukses. Sekalipun tidak terlalu kaya, ia sesungguhnya sangat mampu membiayai ketiga anaknya itu. Ia memiliki lahan pertanian yang cukup luas, di samping itu juga memiliki usaha ternak ayam berjumlah ribuan. Suami mengerjakan sawah dengan cara modern dengan mempekerjakan beberapa orang, selain mereka yang bekerja mengurus ternak ayamnya. Para pekerja ini diambil dari para tetangga, agar sekaligus bisa membantu mereka. Sedangkan isterinya mengajar di sekolah swasta, ditambah kegiatan memberikan kursus pelajaran IPA ----matematika, biologi, fisika, kimia dan bahasa Inggris. Dengan kegiatan seperti itu, secara ekonomis keluarga itu saya lihat lebih dari cukup, sehingga umpama mereka memanjakan para anak-anaknya dengan selalu memberi uang setiap memerlukan sangat mungkin. Tetapi ternyata hal itu tidak ia lakukan.

Sejak anaknya masing-masing sudah menginjak sekitar kelas 3 atau 4 Sekolah Dasar (SD) sudah mulai diperkenalkan dengan kegiatan ekonomi. Kebetulan tidak jauh dari rumahnya, ada kerajinan membuat kompor minyak tanah. Anaknya yang baru berumur sekitar 10-an tahun sudah ditugasi ikut bekerja di sore hari di home industry itu. Bekerja siang hari menjadi alternatif karena di pagi hari anak-anaknya harus sekolah. Selain itu, bahwa status kerja bagi anak-anaknya tidak lebih dari sebatas memberikan pengalaman. Jenis pekerjaan yang sudah disepakati antara pemilik usaha dengan orang tuanya sebatas yang terjangkau bagi anak-anak, misalnya memasang sumbu kompor, membantu pekerja membersihkan apa saja yang diperlukan dan sejenisnya. Bagi orang tua anak tersebut dengan anaknya bekerja di home industry itu, agar mereka memiliki pengalaman bekerja, menghayati dunia usaha dan sekaligus merasakan bagaimana hidup sebagai pekerja. Anehnya lagi, orang tersebut juga meminta agar anak-anaknya setiap akhir minggu digaji sebagaimana pekerja lainnya, sekalipun tidak seberapa. Gaji yang diberikan kepada anak-anaknya itu, sebetulnya tidak lain adalah berasal dari orang tuanya sendiri. Bayaran yang didapat tersebut oleh orangtuanya, tidak boleh digunakan sebagai uang jajan, melainkan agar ditabung. Cara ini dimaksudkan agar anaknya memiliki pengalaman bagaimana menjadi pekerja, sekaligus menanamkan pelajaran bagaimana menghargai hasil keringat dari bekerja, ialah dengan cara menabung uang hasil kerjanya itu.

Selain itu, sebagai peternak ayam dalam jumlah yang agak besar, orang tuanya mempekerjakan beberapa orang buruh. Setiap saat ada persoalan, misalnya terkait dengan makanan ternak, obat, pemasaran dan lain-lain, yang harus dipecahkan, para pekerja tidak boleh menanyakan langsung ke orang tuanya, tetapi harus melewati dulu pada anak-anaknya. Selanjutnya, jika anaknya tidak mampu mengambil keputusan, maka baru anaknya akan berkonsultasi, meminta petunjuk pada ayahnya. Cara ini dilakukan dengan maksud agar anak-anaknya belajar bagaimana menyelesaikan persoalan, baik terkait persoalan ternak ayam maupun juga persoalan bagaimana berkomunikasi dengan para pekerja. Strategi seperti ini memberikan peluang bagi anak-anaknya, belajar bagaimana menghadapi persoalan, mengambil keputusan dan sekaligus mengenal persoalan terkait merawat ternak ayam itu.

Latihan berekonomi lainnya, minimal sekali dalam sebulan, pada hari minggu, anak-anaknya ditugasi untuk ke pasar. Mereka harus mencari informasi berbagai harga barang-barang di pasar, seperti harga gula, beras, berbagai macam sayur, peralatan rumah tangga dan lain-lain. Kegiatan sperti ini mereka menyebutnya suvey pasar. Mereka menanyakan satu persatu harga berbagai barang sekalipun tidak membelinya. Harga-harga itu dicatat dan dijadikan bahan diskusi dengan orang tuanya di rumah. Beberapa harga barang, misalnya minggu itu naik bilamana dibandingkan dengan harga barang tersebut pada bulan sebelumnya. Selanjutnya hasil survey pasar tersebut dianalisis dan dijadikan bahan diskusi rutin setiap bulan di lingkungan keluarga itu. Mengapa beberapa barang tertentu naik, tetap atau bahkan turun. Diskusi sesuatu yang nyata dari data yang didapatkan tersebut, banyak memberikan pelajaran terhadap anak-anak, tidak saja berguna untuk melatih kecerdasan anak-anaknya, lebih dari itu berfungsi untuk mengakrapkan anak-anak dengan kehidupan nyata, melatih berkomunikasi, mengemukakan pendapat, menarik kesimpulan dan sekaligus membiasakan mereka selalu mengikuti perkembangan ekonomi sehari-hari.

Yang menarik lagi lainnya, teman baik saya ini, membatasi hanya membiayai anak-anaknya sampai tamat SMP. Selanjutnya, mulai anak-anaknya melanjutkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah tidak boleh lagi meminta bantuan biaya dari orang tuanya. Orang tuanya hanya memberikan modal usaha secukupnya yang harus dikembangkan sendiri di sela-sela tidak masuk sekolah. Bimbingan masih selalu diberikan dan tentu juga dana insidental yang diperlukan, misalnya untuk membayar uang pangkal sekolah, sewa rumah, jika harus sewa karena belajar di kota yang jauh dari rumahnya dan sejenisnya. Tatkala anaknya masuk di sekolah tingkat SMA ini, benar-benar diajari hidup mandiri. Menurut informasi yang saya dapatkan dari orang tuanya, anak-anaknya juga menerima keputusan tersebut dengan baik dan tidak dianggap sebagai beban yang berat. Karena sudah sejak kecil mereka telah dibekali pengetahuan, pengalaman dan penghayatan yang sangat cukup tentang bagaimana berwirausaha. Hal lain yang masih saya rasakan aneh apa yang dilakukan orang tua ini, bahwa agar anaknya benar-benar mandiri, maka mereka ini berpesan kepada saudara-saudaranya agar tidak terbiasa memberikan uang atau apa saja kepada anak yang sudah dianggap mandiri itu, termasuk juga kepada kakek dan neneknya yang semesinya meyayangi para cucunya ini. Tetapi sudah sudah barang tentu, komunikasi antar mereka ----orang tua dan anak, masih tetap dibangun secara intens, termasuk mem-back up apa saja, jika hal itu diperlukan.

Belajar dari kisah nyata, bagaimana orang tua mendidik anak-anak berjiwa intrepreneour seperti itu, kiranya menarik, apalagi jika dikaitkan dengan fenomena akhir-akhir ini, di mana orang tua lebih cenderung bersikap tidak sampai hati melihat anak-anak mereka kelihatan secara fisik menderita. Orang tua sekarang lebih senang dirinya susah daripada melihat kesusahan itu dialami oleh para anak-anaknya. Anak sekarang lebih banyak dimanja oleh orang tuanya. Padahal jika dipikir secara mendalam, tatkala anak-anak akan menghadapi kompetisi hidup yang semakin terbuka dan keras, maka pendidikan seperti itulah yang sekiranya justru diperlukan. Namun sekali lagi banyak orang tua saat ini lebih suka memanjakan para anak-anaknya. Jangankan anak-anaknya dilatih bekerja, sekedar pergi ke sekolah saja setiap pagi diantar, dan pulang dijemput. Anehnya, perlakuan seperti itu tidak saja diberikan orang tua tatkala anak-anak mereka masih duduk di tingkat sekolah menengah, bahkan sudah masuk perguruan tinggi pun tidak sedikit yang masih harus diintervensi oleh orang tuanya. Akibatnya, anak-anak yang diperlakukan seperti itu, mengalami tingkat kedewasaan yang terlambat. Alih-alih mereka berhasil memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggung-jawab atas kehidupan lingkungan, bahkan sebatas mengurus kehidupan diri sendiri saja, sekalipun sudah berstatus sebagai mahasiswa dan bahkan sudah lulus saja, tidak sedikit di antara mereka yang masih belum mampu hidup mandiri. Kiranya, itu semua sebagai akibat intervensi orang tua pada anaknya yang berlebihan.

Pendidikan kewirausahaan di lingkungan keluarga yang diutarakan di muka, jika dilihat dari satu sisi tampak melewati batas kemampuan anak-anak yang masih belum berumur. Tetapi pada kenyataanya, justru melalui pendidikan seperti itu, sejak dini anak-anak telah mengenal kehidupan yang lebih nyata dan luas. Mereka sejak dini telah diperkenalkan bagaimana merasakan menjadi pekerja ikut orang lain (bekerja di industri kompor), memimpin dan menyelesaikan persoalan (belajar mengatasi persoalan yang timbul dari para pekerja ternak ayam), mengkuti perkembangan ekonomi pasar sekaligus belajar berkomunikasi dengan orang lain, termasuk belajar menganalisis kejadian ekonomi sederhana tentang fluktuasi harga pasar dan akhirnya juga belajar bagaimana berwirausaha dalam kehidupan nyata. Pendidikan keras seperti ini, ternyata membawa hasil. Ketiga anak yang dididik berwirausaha tersebut, setelah dewasa ternyata memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi. Dua orang anaknya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter, juga memiliki usaha sampingan, dan begitu juga seorang anaknya yang berwirausaha, juga menjadi wirausahawan yang sukses. Pengalaman nyata ini, rasanya tatkala bangsa sedang menghadapi persoalan pengangguran anak-anak muda yang semakin besar jumlahnya, kiranya bisa dijadikan alternatif upaya mengembangkan jiwa wirausaha dalam wilayah yang lebih substantif dan berskala luas. Allahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar